Tuesday, 8 December 2009

LERAK..si deterjen alami

1 comments

Di jaman kita hidup sekarang, sangatlah lebih enak bila dibandingkan mudanya kakek nenek kita. Apalagi di era yang serba modern dan instan sekarang ini, kita tidak perlu bersusah-susah. Mau masak nasi tinggal masukin beras ke rice cooker, mau nyuci tinggal masukin pakaian kotor plus deterjen ke mesin cuci.
Ngomong-ngomong tentang cuci-mencuci, siapa yang yang tak kenal deterjen dengan segudang merk yang beredar di negeri kita ini. " Cukup setakar bisa buat nyuci pakaian kotor seember..".. " Mencuci tangan tetap lembut...". " kekuatan sepuluh tangan.." dan sebagainya... Begitulah berbagai bunyi hasutan dari berbagai iklan deterjen di televisi. Namun dari sekian banyak produk deterjen yang beredar di pasaran, apakah ada yang benar-benar ramah lingkungan ?



Setelah mencuci baju, kulit tangan Anda terasa kering, panas, melepuh, retak-retak, gampang mengelupas hingga gatal? Bila itu yang Anda rasakan, maka deterjen Anda adalah bukan deterjen yang baik bagi kesehatan. Hati-hati, pemakaian terus-menerus menimbulkan gangguan pada fungsi-fungsi organ, seperti pada sistem pencernaan dan fungsi hati. Air yang terkontaminasi deterjen, dapat mengganggu fungsi-fungsi organ. Dalam waktu panjang, dapat merusak sistem pencernaan, dan fungsi hati. Hal itu disebabkan oleh susunan rantai kimia surfaktan, yang ada di dalam deterjen itu.

Ternyata selain tidak bersahabat dengan tubuh manusia, deterjen juga tidak ramah terhadap lingkungan. Di dalamnya terdapat zat-zat yang tidak bisa atau sulit terurai secara alami oleh tanah. Zat-zat kimia tersebut kemudian terakumulasi selama bertahun-tahun dan merembes ke dalam sumber air tanah. Zat pembersih seperti chlorine— yaitu zat kimia yang banyak dipakai sebagai pemutih dalam deterjen—membutuhkan waktu selama 150 tahun untuk terurai sempurna. Demikian juga ABS (alkyl benzene sulphonate), zat kimia yang digunakan sebagai penghasil busa pada berbagai deterjen. Saking kuatnya ikatan rantai molekul-molekul penyusunnya, ABS baru bisa terurai sempurna dalam waktu kurang lebih 500 tahun!!

Pada masa mudanya kakek nenek kita dahulu, mereka tidak mengenal yang namanya deterjen. Boro-boro mengenal, mungkin pabriknya saja belum ada. Untuk keperluan mencuci baju, mereka memanfaatkan busa yang diperoleh dari tumbuhan yang bernama "Lerak".

Lerak (terutama Sapindus rarak De Candole, dapat pula S. mukorossi) atau dikenal juga sebagai rerek atau lamuran adalah tumbuhan yang dikenal karena kegunaan bijinya yang dipakai sebagai deterjen tradisional.











Tumbuhan lerak berbentuk pohon dan rata-rata memiliki tinggi 10m walaupun bisa mencapai 42 meter dengan diameter 1m, karenanya pohon lerak besar dengan kualitas kayunya setara dengan kayu jati. Sehingga banyak ditebang karena memiliki nilai ekonomis. Bentuk daunnya bulat-telur berujung runcing, bertepi rata, bertangkai pendek dan berwarna hijau. Biji terbungkus kulit cukup keras bulat seperti kelereng, kalau sudah masak warnanya coklat kehitaman, permukaan buah licin dan mengkilat.




Biji lerak mengandung saponin, suatu alkaloid beracun, saponin inilah yang menghasilkan busa dan berfungsi sebagai bahan pencuci, dan dapat pula dimanfaatkan sebagai pembersih berbagai peralatan dapur, lantai, bahkan dapat dipakai untuk memandikan dan membersihkan binatang peliharaan. Kandungan racun biji lerak juga berpotensi sebagai insektisida. Cara mendapatkan busa buah lerak sangatlah gampang. Buah lerak cukup dimemarkan dengan cara dipukul. Lalu gosokkan buah lerak yang telah memar tadi pada kain atau baju yang akan dicuci. Dengan kain atau pakaian dibasahi terlebih dahulu. Kulit buah lerak dapat digunakan sebagai pembersih wajah untuk mengurangi jerawat dan kudis. Busa yang dihasilkan dari buah lerak tidaknya merusak lingkungan. Busa tersebut dengan sendirinya akan terurai.

Namun sekarang ini sangatlah sulit untuk menemukan pohon lerak. Biasanya para pengrajin batik tradisionallah yang masih menggunakan lerak untuk mencuci kain batik. Busa buah lerak tidak akan merusak warna kain batik, namun justru sebaliknya. Dengan di cuci dengan menggunakan busa buah lerak, warna kain batik akan bertahan lebih lama.

Tuesday, 1 December 2009

POHON KELOR

4 comments

ENAK DAN SAKTI...


Pohon Kelor yang nama ilmiahnya Moringa oleivera termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 7 -11 meter. Di jawa, Kelor sering dimanfaatkan sebagai tanaman pagar karena berkhasiat untuk obat-obatan. Pohon Kelor tidak terlalu besar. Batang kayunya getas (mudah patah) dan cabangnya jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai. Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Bunganya berwarna putih kekuning kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa). Sedang getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa). Pengembangbiakannya dapat dengan cara stek.

Bagi masyarakat Indonesia, kelor memiliki banyak nama. Jadi masing-masing daerah memiliki sebutan masing-masing : Kelor (Indonesia, Jawa, Sunda, Bali, Lampung, Sumbawa), Kerol (Buru); Marangghi (Madura), Moltong (Flores), Kelo (Gorontalo); Keloro (Bugis), Kawano ( Sumba), Ongge (Bima); Hau fo (Timor);

Ini dia wujud dari daun kelor.

Buah kelor yang belum dikupas.

Buah kelor yang telah dikupas.



Bagi saya yang pernah tinggal di Sumbawa Besar, kelor sudah tidak asing lagi. Di sana daun kelor dipakai untuk campuran sayur bening, sedang buahnya yang panjang dipakai untuk campuran sayur asem.

Hal ini sangat berbeda 180 derajat dengan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa, daun kelor tidak lazim untuk dikonsumsi. Justru di Jawa daun kelor terdengar seram. Bagaimana tidak seram, di Jawa daun kelor dipakai salah satu syarat dalam memandikan jenasah. Di dalam air untuk memandikan jenasah diberi beberapa tangkai daun kelor.




Lain lagi dengan di pulau Lombok. Di pulau Lombok, selain dikonsumsi, pohon kelor termasuk tanaman yang sakti atau ampuh untuk memusnahkan ilmu hitam. Pernah ada seorang teman saya yang saat itu sedang berkunjung di suatu desa pelosok di pulau Lombok. Suatu sore ia mendengar warga desa berteriak-teriak mengejar sesosok mahkluk aneh dengan wujud setengah anjing setengah burung. Badan berbentuk seperti burung, namun berkepala anjing. Tidak berapa lama seorang warga dapat mendekati mahkluk tersebut dan langsung memukulnya dengan menggunakan sebatang ranting pohon kelor. Mahkluk tersebut langsung jatuh tersungkur dan seketika berubah kembali menjadi sosok wanita. Rupanya mahkluk tersebut adalah leak, yaitu mahkluk jelmaan dari manusia yang mempelajari ilmu hitam. Ternyata leak bisa dikalahkan dengan menggunakan sebatang tangkai kelor, namun syaratnya harus satu kali pukul. Konon bila kita memukulnya lebih dari satu kali, leak justru akan bertambah kuat. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi leak Bali. Leak Bali dikenal lebih kuat daripada leak Lombok.

Di luar kemampuannya untuk menghilangkan ilmu hitam dan penggunaannya yang sedikit seram, ternyata pohon kelor juga menyimpan manfaat lain, yaitu sebagai obat tradisional. Kelor dapat digunakan sebagai : Diuretik, Stimulan, Ekspektoran, Analgesik. ( Ipteknet )